April 7, 2019

Ilmu Tajwid Dasar Lengkap Disertai Contohnya
Ilmu Tajwid Dasar Lengkap Disertai Contohnya

Ilmu tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara – cara membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan Al Qur’an dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca Al Qur’an.

Yang terutama dibahas atau dipelajari dalam ilmu tajwid adalah huruf – huruf hijaiyah yaitu yang berjumlah 29 huruf hijaiyah, dalam bermacam – macam harokah / harokat (barisnya) serta dalam bermacam – macam hubungan.

Huruf hijaiyah 29 huruf yaitu.


Apabila disebutkan huruf hijaiyah yang 28 huruf tersebut, maksudnya adalah huruf yang diatas itu, selain huruf alif.

Belajar ilmu tajwid hukumya Fardlu Kifayah, sedangkan membaca Al Qur’an dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) itu hukumnya Fardlu ‘Ain.

Langsung saja kita membahas ilmu tentang tajwid agar bacaan kita dalam membaca Al Quran baik dan benar.


1. Bab 1 : Hukum Bacaan Nun Sukun dan Tanwin

Hukum nun sukun [ نْ ] dan tanwin .... itu ada lima macam yaitu manakala ada nun sukun [ نْ ] dan tanwin ... bertemu pada salah satu huruf halqi [ حُرُوفْ حَلْقِى ] yang enam yakni huruf  ء ه ح ع غ  خ hamzah, haa, haa', 'ain, ghain, dan khaa'. Maka hukum bacaannya disebut :

Idhar Halqi [ أِظْهَارْحَلْقِ ]

Idhar artinya adalah menerangkan atau menjelaskan, sedangan halqi artinya kerongkongan. Cara membacanya harus dibaca dengan terang dan jelas, sebab bertemu dengan salah satu huruf halqi.

Contohnya :

مَنْ آمَنَ . مِنْهُ . غَفُرٌحَلِيْمً . سَمِيْعٌ عَلِيْمً  

dan lain sebagainya.

Huruf tersebut adalah huruf halqi, karena mahrajnya atau tempat keluar suara dari mulut ada pada kerongkongan atau tenggorokan.

Apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf hijaiyah ini yaitu huruf yaa', nun, mim, dan wau [ ي ن م و ] maka hukum bacaannya disebut :

Idgham Bighunnah [ أِدْغَامْ بِغُنَّة ]

Idgham artinya memasukkan atau mentasydidkan, sedangkan bighunnah artinya dengan mendengung. Jadi cara membacanya harus dimasukkan atau ditasydidkan ke dalam salah satu huruf hijaiyah diatas dengan suara mendengung.

Contohnya:

مِنْ نُوْرٍ . مَنْ مَنَعَ . مَنْ يَقُوْلُ . مِنْ وَلِيٍّ وَلاَنَصِيْرٍ

Akan tetapi apabila ada nun sukun dan tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah yaa', nun, mim, dan wau [ ي ن م و ] dalam satu kalimah, maka bukanlah bacaan idgham atau tidak dibaca idgham dan tidak ditasydidkan, bahkan harus dibaca dengan terang dan jelas. Dan disebut bacaan :

Idhar Wajib [ أِظْهَارْوَاجِبْ ]

Contohya :

 دُنْيَا . صِنْوَنٌ . بُنْيَانٌ

dan lain sebagainya.

Apabila ada nun sukun dan tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah dari huruf lam [ ل ] atau ra' [ ر ] maka hukum bacaannya disebut :

Idgham Bilaghunnah [ أِدْغَامْ بِلاَغُنَّةْ

Idgham artinya memasukkan atau mentasydidkan, sedangan bilaghunnah artinya dengan tidak mendengung.

Contohnya :

مَنْ لَمْ  dibaca  مَلَّمْ
مِنْ رَبِّهِمْ  dibaca  مِرَّبِّهِمْ

Contoh lain :

مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا . وَلَكِنْ لاَيَعْلَمُوْنَ

dan lain sebagainya.

Apabila ada nun sukun dan tanwin bertemu dengan huruf baa' [ ب ]  maka hukum bacaannya disebut :

Iqlab [ أِقْلاَبْ ]

Iqlab artinya membalik atau menukar. Tegasnya huruf nun atau tanwin itu membacanya ketika itu dibalik atau ditukar menjadi mim [ م ].

Contohnya :

سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ . تَنْبِيْهٌ . كِرَامٍ بَرَرَةٍ

dan sebagainya.

Apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah yaitu 15 huruf hijaiyah

ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك

ta', tsa', jim, dal, dzal, za', sin, syin, shod, dhod, tho', zho', fa', qof, kaf

Maka hukum bacaannya disebut :

Ikhfaa' Haqiqi [ أِخْفَاءْ حَقِيْقِى ]

Ikhfaa' artinya menyamarkan atau menyembunyikan, sedangkan haqiqi artinya sungguh - sungguh atau benar - benar. Cara membacanya samar - samar antara idhar dengan idgham, artinya harus terang tetapi disambung dengan huruf yang lain dimukannya dengan mendengung.

Contonhya :

مِنْ جُوْعٍ . يَنْطِقُ . أَنْدَادًا . مِنْكُمْ . أَنْفُسَكُمْ

Dan lain sebagainya.

2. Bab 2 : Hukum Bacaan Mim Sukun

Apabila ada mim sukun [ مْ ] bertemu dengan huruf baa' [ ب ], maka hukum bacaanya disebut :

Ikhfaa' Syafawi [ أِخْفَاءْ شَفَوِى ]

Cara membacanya adalah harus samar - samar di bibir dan didengungkan.

Contohnya :

أِعْتَصِمْ بِاللَّهِ . وَهُمْ بِهِ . دَخَلْتُمْ بِهِنَّ

Dan lain sebagainya.

Apabila ada mim sukun bertemu dengan mim [ م ] maka hukum bacaannya disebut :

Idham Miimi [ أِذْغَامْ مِيْمِى ]

Contohnya :

وَمَالَهُمْ مِنَ اللهِ . أَمْ مَنْ يَرْجوْنَ

Dan lain sebagainya.

Apabila ada mim sukun bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah 26 huruf yakni selain huruf hijaiyah huruf mim [ م ] dan baa' [ ب ]  maka hukum bacaannya disebut :

Idhar Syafawi [ أِظْهَارْشَفَوِى ]

Cara membacanya yang terang di bibir dengan mulut tertutup dan harus lebih dijelaskan lagi apabila bertemu dengan wau [ و ] dan faa' [ ف ].

Contohnya :

أَنْعَمْتَ . لَهُمْ فِيْهَا . عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّيْنَ

Dan lain sebagainya.

3. Bab 3 : Hukum Bacaan Mim Tasydid dan Nun Tasydid

Apabila ada mim yang bertasydid dan nun yang bertasydid, maka dibaca dengan mendengung dan disebut bacaan :

Ghunnah [ غُنَّةْ ]

Contohnya :

النَّاسُ . النَّارُ . أِنَّ . أَمَّا . الجَنَّةُ

Dan lain sebagainya.

4. Bab 4 : Hukum Bacaan Laam Ta'rif

Alif dan lam [ ا ل ] yang selalu dihubungkan dengan perkataan - perkataan nama benda dalam bahasa Arab disebut Lam Ta'rif.

Apabila ada Lam Ta'rif [ لاَمُ التَّعْرِيْفِ ] bertemu atau dihubungkan dengan salah satu huruf hijaiyah 14 yaitu huruf :

و ك ج ح غ ب ء ه م ي ق ع ف خ

Wau, kaf, jim, ha, ghain, ba', hamzah, haa, mim, yaa', qaf, 'ain, fa', khaa'

Maka hukum bacaannya disebut :

Idhar Qomariyah [ أِظْهَارْ قَمَريَّةْ ]

Cara membacanya harus terang. Huruf hijaiyah 14 tersebut telah berkumpul dalam kalimah.

أَبْغِ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيْمَهْ

Huruf 14 tersebut dinamakan huruf Qomariyah [ قَمَرِيَّهْ ]. Qomar artinya bulan, sedangkan Qomariyah artinya sebangsa bulan.

Karena lam ta'rif itu diumpamakan bintang dan huruf itu diumpamakan bulan. Bintang itu tetap terang kelihatannya, meskipun ada atau bertemu dengan bulan.

Karena itu pula, maka lam ta'rif tersebut ketika bertemu dengan huruf qomariyah harus dibaca terang.

Contohnya :

أَلْأَنْعَامُ . اَلْبِرُّ . اَلْغَمَامُ . اَلحَمِيْمُ . اَلْجَنَّةُ . اَلْكَوْثَرُ . اَلْوِلْدَانُ . اَلْخَيْرُ . اَلْقَمَرُ

dan lain sebagainya.

Apabila ada lam ta'rif bertemu dengan salah satu huruf yang 14 tersebut, yakni semua huruf hijaiyah selain huruf Qomariyah, maka hukum bacaannya disebut :

Idgham Syamsyiyah [ أِدْغَامْ شَمْسِيَةْ ]

Cara membacanya harus dimasukkan ( di idgham kan ) ke dalam salah satu huruf 14 tersebut.

Syam artinya matahari, sedangkan Syamsiyah artinya sebangsa matarahi.

Bintang itu apabila bertemu dengan matahari menjadi tidak kelihatan. Demikian pula lam ta'rif itu, apabila bertemu dengan huruf Syamsiyah menjadi tidak terbaca pula. Meskipun tulisannya masih ada. Dan kemudian ditasydidkan ( dimasukkan ) ke dalam huruf Syamsiyah.

Contohnya :

السَّلاَمُ . اَلتَّوَّابُ . اَلرَّحِيْمُ . والشَّمْسِ . بِالصَّبْرِ . اَلضَّآلِّيْنَ . اَلظَّالِمُونَ . اَلنَّاسُ . اَلدِّيْنُ

dan lain sebagainya.

5. Bab 5 : Hukum Bacaan Lam Tebal dan Tipis

Apabila Lam Ta'rif bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah 14 yakni selain huruf Qomariyah, maka hukum bacaanya disebut :

dibaca dengan tebal [ مُفَخَّمَةْ ]

Contohnya :

شَهِدَاللهُ . رَسُوْلُ اللهِ . اَللَّهُمَّ

Apabila Lam dalam kalimah Allah didahului oleh kasroh dan semua Lam yang tidak di dalam kalimah Allah maka harus dibaca tipis.

Contohnya :

بِسْمِ اللهِ . بِاللهِ . وَلَهُ الْحَمْدُ . اَللَّذِى . وَعَلَّمَ

dan lain sebagainya.

6. Bab 6 : Hukum Bacaan Idgham Mutamatsilain

Apabila ada huruf yang sama sedang yang pertama sukun (mati), umpamanya baa' sukun [ بْ ] bertemu dengan baa' [ ب ], maka hukum bacaannya disebut :

Idgham Mutamasilain [ أَدْغَامْ مُتَمَاثِلَيْنِ ]

Cara membacanya harus dimasukkan (ditasydidkan) kepada huruf yang kedua. Contohnya :

Kalimahnya :

اِضْرِبْ بِعَصَاكَ . أِذْذَهَبَ . فَمَارَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ

Dibaca :

اِضْرِ بِّعَصَاكَ . أِذَّهَبَ . فَمَارَبِحَتِّجَارَتُهُمْ

Mutamatsilain artinya dua semisal, dan juga disebut mitslain, yang terkecuali dari kaidah idgham mutamatsilain ini, ada kecualinya, yaitu :

Wau sukun [ وْ ] bertemu dengan wau [ و ]

Yaa' sukun [ يْ ] bertemu dengan yaa' [ ي ]

Maka tidak di idghamkan (dimasukkan) dalam huruf yang kedua, tetapi harus dibaca panjang sebagaiman mestinya.

Contohnya :

اِصْبِرُوْاوَصَابِرُوْا . آمَنُوْاوَعَمِلُوْا . فِييَوْمٍ كَانَ

7. Bab 7 : Hukum Bacaan Idgham Mutaqaribain

Apabila ada :

Tsaa' sukun [ ثْ ] bertemu dengan dzal [ ذ ]
Baa' sukun [ بْ ] bertemu dengan mim [ م ]
Qof sukun [ قْ ] bertemu dengan kaf [ ك ]

Maka hukum bacaannya disebut :

Idgham Mutaqaribain [ أِدْغَامْ مُتَقَارِبَيْن  ]

Mutaqaribain artinya dua berdekatan, cara membacanya harus dimasukkan (di idghamkan) ke dalam huruf dua itu.

Contohnya :

يَلْهثْ ذَلِكَ   dibaca  يَلْهَذَّلِكَ

اِرْكَبْ مَعَنَا  dibaca  اِرْكَمَّعَنَا

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ   dibaca  أَلَمْ نَخْلُكُّمْ

dan lain sebagainya.

8. Bab 8 : Hukum Bacaan Idgham Mutajanisain

Apabila ada :

Taa' sukun [ تْ ] bertemu dengan thaa' [ ط ]
Taa' sukun [ تْ ] bertemu dengan dal [ د ]
Thaa' sukun [ طْ ] bertemu dengan taa' [ ت ]
Dal sukun [ دْ ] bertemu dengan taa' [ ت ]
Lam sukun [ لْ ] bertemu dengan raa' [ ر ]
Dzal sukun [ ذْ ] bertemu dengan dhaa' [ ظ ]

Maka hukum bacaannya disebut :

Idgham Mutajanisain [ أِدْغَامْ مُتَجَانِسَيْن ]

Cara membacanya dimasukkan (di idghamkan) atau ditasydidkan kedalam huruf yang kedua.

Contohnya :

آمَنَتْ طَّائِفَةُ   dibaca   آمَنَطَّائِفَةُ
لَقَدْتَابَ   dibaca   لَقَتَّابَ
بَسَطْتَ   dibaca   بَسَتَّ
اُجِيْبَتْ دَعْوَةُ   dibaca   اُجِيْبَدَّعْوَةُ
قُلْ رَبِّ   dibaca   قُرَّبِّ
أِذْظَلَمُوْ   dibaca   أِظَّلَمُوْ

dan seterusnya.

9. Bab 9 : Hukum Bacaan Raa'

Cara membaca ra' [ ر ] itu ada 3 macam bacaan, yaitu :

1. Yang ditebalkan atau mufakhamah [ مُفَخَّمَةْ ] yaitu :

Ra' Fathah [ رَ ], contohnya :

رَبَّنَا . رَضِيَ . رَيْبِ

Ra' Dhamma [ رُ ], contohnya :

حُرُمٌ . كَفَرُوْا . رُزِقْنَ

Ra' Sukun [ رْ ] sedang huruf sebelumnya berbaris fathah atau dhammah.

Contohnya :

مَرْضِيَّةْ . وَانْصُرْنَا . مَرْيَمُ

Ra' Sukun [ رْ ] huruf sebelumnya kasroh, tetapi kasroh itu bukan asli dari asal kalimah.

Contohnya :

اِرْجِعُوْا . اِرْحَمْ
Ra' Sukun [ رْ ] huruf sebelumnya juga berharokat kasroh yang asli tetapi sesudah ra' itu ada huruf :

خ ص ض غ ط ق ظ

Kha', Shad, Dhad, Ghain, Tha', Qof, Dha'

yang tidak berharokat kasroh.

Contohnya :

قِرْطَاسٌ . مِرْصَادٌ . فِرْقَةٌ

Huruf hijaiyah 7 tersebut adalah hururf isti'laa'.

Isti'laa' [ أِسْتِعْلَاءْ ] artinya meninggi atau berat, karena bunyi itu agak berat.

2. Yang dibaca tipis atau muraqqaqah [ مُرَقَقَةْ ] yaitu :

Apabila ra' tadi berkharokat kasroh [ رِ ] baik pun dalam permulaan kalimah, atau pertengahan, atau pada akhir kalimah.

Contohnya :

رِزْقًا . أَرِنَا . الفَجْرِ . الغَارِميْنَ

Apabila sebelum ra' [ ر ] ada yaa' sukun [ يْ ]

Contohnya :

خَيْرٌ . قَدِيْرٌ

Apabila sebelum ra' sukun [ رْ ] itu harus yang berharakat kasroh yang asli tetapi yang sesudahnya bukan huruf isti'laa [ أِسْتِعْلَاءْ ]

Contohnya :

أَنْذِرْهُمْ . فِرْعَوْنَ

3. Yang boleh dibaca tebal atau tipis

Adapun apabila ada huruf ra' sukun [ رْ ] dan huruf yang sebelumnya berharakat kasroh sesudahnya ada salah satu huruf isti'laa yang berharokat kasroh maka cara membaca ra' tadi boleh dengan tebal dan boleh juga dengan tipis.

Contohnya :

مِنْ عِرْضِهِ . بِحِرْصٍ

10. Bab 10 : Hukum Bacaan Mad (Panjang)

Apabila ada :

Alif [ ا ] sesudah fathah atau,
Yaa' [ ي ] sesudah kasroh atau,
Wau [ و ] sesudah dhammah.

Maka hukum bacaannya disebut :

Mad Thabi'i [ مَدْ طَبِيْعِى ]

Mad artinya panjang, sedangkan Thabi'i artinya biasa. Cara membacanya harus panjang sepanjang dua harokat (dua gerakan huruf), atau disebut alif.

Contohnya :

قُوْلُوْا . فِيْهِ . مَالٌ . نُوْحِيْهَا

dan lain sebagainya.

Apabila ada Mad Thabi'i bertemu dengan hamzah [ ء ] di dalam satu kalimah, maka hukum bacaannya disebut :

Mad Wajib Muttashil [ مَدْ وَاجِبْ مُتَّصِلْ ]

Mad artinya panjang, sedangkan muttashil artinya bersambung. Cara membacanya wajib panjang 5 harokat atau dua setengah kali Mad Thabi'i, atau dua setengah alif.

Contohnya :

سَوَاءٌ . جِيْءَ . سُوْءَ . جَاءَ . سَاءَ . وَرَاءَ

biasanya di dalam Al Qur'an diberi tanda seperti ini [ سَوَآءٌ ]

dan sebagainya.

Apabila ada Mad Thabi'i bertemu dengan hamzah [ ء ] tetapi hamzah itu di lain kalimah, maka hukum bacaanya disebut :

Mad Ja'iz Munfashil [ مَدْ جَائِزْ مُنْفَصِلْ ]

Mad artinya panjang, ja'iz artinya boleh, sedangkan munfashil artinya terpisah. Cara membacanya boleh dipanjangkan seperti Mad Wajib Muttashil, dan boleh juga seperti Mad Thabi'i, tetapi seperti Mad Wajib Muattashil lebih baik.

Contohnya :

وَلَاأَنْتُمْ . بِمَاأُنْزِلَ . قُوْاأَنْفُسَكُمْ . فِيْ أَنْفُسِكُمْ

dan lain sebagainya.

Apabila ada Mad Thabi'i bertemu dengan tasydid didalam satu kalimah, maka hukum bacaannya disebut :

Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi [ مَدْ لَازِمْ مُثَقَّلْ كِلْمِى ] atau Mad Lazim Muthawwal [ مَدْ لَازِمْ مُطَوَّلْ ]

Lazim artinya pasti atau wajib, mutsaqqal artinya diberatkan, kilmi artinya sebangsa perkataan, dan muthawwal artinya dipanjangkan.

Cara membacanya harus panjang selama 6 harokat atau 3 kali panjang Mad Thabi'i.

Contohnya :

وَلَاالضَّالِّيْنَ . الظَامَّةُ . الصَّاحَّةُ

didalam Al Qur'an biasaya ditandai seperti ini [ وَلَاالضَّآلِّيْنَ ]

dan lain sebagainya.

Apabila ada Mad Thabi'i bertemu dengan huruf mati (sukun), maka hukum bacaanya disebut :

Mad Lazim Mukhafaf Kilmi [ مَدْ لَازِمْ مُخَفَّفْ كِلْمِى ]

Cara membacanya seperti Mad lazim Mutsaqal Kilmi yaitu dibaca panjang enam harokat.

Didalam Al Qur'an yang menurut hukum ini hanya satu kalimah, yaitu [ آلآنْ ] yang ada didua tempat dalam surah Yunus.

Apabila ada wau [ و ] atau yaa' sukun [ يْ ] sedang huruf yang sebelumnya itu berharokat fathah, maka hukum bacaannya disebut :

Mad Layin [ مَدْ لَيِنْ ]

Cara membacanya adalah sekedar lunak atau lemas.

Contohnya :

رَيْبٌ . خَوْفٌ . بَيْتٌ

dan lain sebagainya.

Apabila ada waqaf [ وَقَفْ ] atau tempat berhentinya membaca kalimah, sedang sebelum waqaf itu ada Mad Thabi'i atau Mad Lien, maka hukum bacaanya disebut :

Mad 'Aridl Lissukun [ مَدْ عَارِضْ لِلسُّكُوْن ]

Mad artinya panjang, aridl artinya yang bertemu atau yang mendatang, li artinya karena, sukun artinya mati.

Cara membacanya ada 3 macam, yaitu :
  • Yang lebih utama supaya dibaca panjang sama dengan Mad Wajib Mutashil yaitu dibaca panjang enam harokat.
  • Yang pertengahan, dibaca 4 harokat, yakni dua kali panjang Mad Thabi'i.
  • Yang pendek, yakni boleh dibaca seperti Mad thabi'i yaitu dua harokat.
Contohnya :

خَالِدُوْنَ . سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ . وَالنَّاسِ . اْلمُفْلِحُوْنَ . المُحْسِنِيْنِ .  يَصْنَعُوْنَ . مِنْ خَوْفِ . رَبَّ هَذَاالْبَيْتِ

dan lain sebagainya.

Apabila ada haa' dhamir yang berupa [ ىه ] sedang sebelum haa' ada huruf hidup (berharokat) maka hukum bacaanya disebut :

Mad Shilah Qashirah [ مَدْ صِلَةْ قَصِيْرَةْ ]

Shilah artinya hubungan, sedangkan qashirah artinya pendek. Cara membacanya harus panjang seperti Mad Thabi'i yaitu dua harokat.

Contohnya :

وَعَدَّدَهُ يَحْسَبُ . أِنَّهُ كَانَ . لَهُ مَافِي السَّمَوَاتِ . وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهْ

dan lain sebagainya.

Apabila ada Mad Shilah Qashirah [ مَدْ صِلَةْ قَصِيْرَةْ ] bertemu dengan [ أ ], maka hukum bacaannya disebut :

Mad Shilah Thawilah [ مَدْ صِلَةْ طَوِيْلَةْ ]

Cara membacanya sama seperti Mad Ja'iz Munfashil.

Contohnya :

مَالَهُ أَخْلَدَهُ . عِنْدَهُ أِلَّا بِأِذْنِهِ . لَهُ أِلَّا بِمَاشَاءَ

dan lain sebagainya.

Apabila ada fathatain yang jatuh pada waqaf (berhenti) pada akhir kalimah, maka hukum bacaannya disebut :

Mad 'Iwadl [ مَدْ عِوَضْ ]

Iwadl artinya ganti. Yakni tanwin diganti dengan Mad atau Alif yang menyebabkan bacaannya dibaca panjang.

Cara membacanya dipanjangkan seperti Mad Thabi'i dan tidak dibaca seperti tanwin.

Contohnya :

عَلِيْمًا حَكِيْمًا   dibaca   عَلِيْمًا حَكِيْمَا
سَمِيْعًا بَصِيْرًا   dibaca   سَمِيْعًا بَصِيْرَا
فَتْحًا مُبِيْنًا   dibaca   فَتْحًا مُبِيْنَا

dan lain sebagainya.

Apabila ada hamzah [ ء ] bertemu dengan Mad, maka hukum bacaanya disebut :

Mad Badal [ مَدْ بَدَلْ ]

Mad artinya panjang, sedangkan badal artinya ganti. Cara membacanya sama seperti Mad Thabi'i.

Contohnya :


آخُذُ . أِيْمَانٌ . آدَمَ

Karena yang sebenarnya huruf Mad yang ada disitu tadi asalnya hamzah yang jatuh mati (sukun), kemudian diganti dengan yaa' [ ي ] alif [ ا ] atau wau [ و ].

Asal kalimahnya adalah :

آخُذُ   asalnya   أَأْخُذُ
أِيْمَانٌ   asalnya   أِئْمَانٌ
آدَمَ   asalnya   أَأْدَمَ

dan lain sebagainya.

Apabila pada permulaan surah dari Al Qur'an terdapat salah satu atau lebih dari diantara huruf hijaiyah yang delapan, yakni nun, qaf, shad, 'ain, sin, lam, kaf, mim, maka hukum bacaannya disebut :

Mad Lazim Harfi Musyabba' [ مَدْ لَازِمْ حَرْفِى مُشَبَّعْ ]

Musyabba' artinya dikenyangkan. Huruf hijaiyah yang delapan tersebut diatas telah terkumpul dalam kalimah.

نَقُصَ عَسَلُكُمْ

Cara membacanya harus panjang yaitu 6 harokat.

Contohnya :

يٰسۤ . آلَمَ

Apabila ada permulaan surah dari Al Qur'an terdapat salah satu dari diantara huruf lima hijaiyah yakni ha', ya', tha', haa, ra', maka hukum bacaanya disebut :

Mad Lazim Harfi Mukhaffah [ مَدْ لَازِمْ حَرْفِى مُخَفَّفْ ]

Huruf hijaiyah lima tersebut terkumpul dalam kalimah.

حَيٌّ طَهَرَ

Cara membacanya seperti Mad Thabi'i yaitu dibaca panjang dua harokat.

Contohnya :

يٰس

Apabila ada ya' [ يْ ] yang didahului dengan ya' yang bertasydid dan harokatnya kasroh [ يِّ ] maka hukum bacaannya disebut :

Mad Tamkien [ مَدْ تَمْ كِيْن ]

Tamkin artinya menempatkan atau penetapan. Cara membacanya ditetapkan dengan tasydid dan Mad Thabi'i.

Contohnya :

النَّبِيِّيْنَ . حُيِّيْتُمْ

dan lain sebagainya.

Ada satu macam Mad yang didalam Al Qur'an hanya terdapat tempat di empat tempat, mad itu dinamakan :

Mad Farq [ مَدْ فَرْقِ ]

Cara membacanya harus dipanjangkan untuk membedakan antara pertanyaan atau bukan. Jadi dipanjangkan itu supaya jelas bahwa kalimah itu berbentuk pertanyaan.

Empat tempat itu terdapat pada :

2 tempat di Surah Al An'am [ الْأَنْعَامْ ] yang berbunyi :

آالذَّ كَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ

1 tempat di Surah Yunus [ يُوْنُسْ ] yang berbunyi :

قُلْ آاللهُ أَذِنَ لَكُمْ

1 tempat di Surah An Naml [ النَّمْل ] yang berbunyi :

آللهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُوْنَ

11. Bab 11 : Hukum Bacaan Qalqalah

Apabila ada salah satu huruf hijaiyah qaf, tha', ba', jim, dan dal [ ق ط ب ج د ] yang sukun (mati), dan matinya itu dari asal kata - kata dalam bahasa arab, maka hukum bacaannya disebut :

Qalqalah Sughra [ قَلْقَلَةْ صُغْرَى ]

Cara membacanya harus bergerak dan berbunyi seperti membalik.

Contohnya :

يَقْطَعُوْنَ . أِبْرَاهِيْم . نَجْعَلُ . يُطْفِئُوْنَ

dan lain sebagainya.

Apabila mati atau sukunya huruf lima tersebut diatas itu, dari sebab waqaf (berhenti) atau titik koma, maka hukum bacaanya disebut :

Qalqalah Kubra [ قَلْقَلَةْ كُبْرَى ]

Qalqalah artinya getaran, sugra artinya yang lebih kecil, sedangkan kubra artinya yang lebih besar.

Cara membacanya lebih jelas dan lebih berkumandang.

Contohnya :


مِنْ خَلَاقْ . اُولُوالْأَلْبَابْ . سَوَاءَالصِّرَاطْ . مَايُرِيْدْ

dan lain sebagainya.

12. Bab 12 : Waqaf

Cara membunyikan kalimah ketika berhenti atau diwaqafkan itu ada 6 macam, yaitu :

Apabila akhir kalimah berupa huruf berbaris sukun, maka ketika berhenti atau waqaf dibaca dengan tidak ada perubahan.

Contohnya :

أَعْمَالَهُمْ . فَحَدِّثْ . فَارْغَبْ

Apabila akhir kalimah itu huruf yang berbaris dengan fathah, kasrah, dhammah, maka ketika berhenti dibaca dengan mematikan atau disukunkan huruf yang terakhir.

Contohnya :

اَلْبَلَدِ   dibaca   اَلْبَلَدْ
اَلْمُزَمِّلُ   dibaca   اَلْمُزَمِّلْ
خَلَقَ   dibaca   خَلَقْ

Apabila akhir kalimahitu berupa huruf ta' marbuthah, maka ketika berhenti dibaca dengan membunyikan menjadi haa' yang mati.

Contohnya :

جَنَّةٌ   dibaca   جَنَّةْ
آخِرَةِ   dibaca   آخِرَةْ
هَاوِيَةٌ   dibaca   هَاوِيَةْ
فِيَامَةً   dibaca    فِيَامَةْ

Apabila akhir kalimah itu berupa huruf yang didahului dengan huruf mati, maka dibaca dengan mematikan dua huruf dengan suara pendek, atau dibunyikan sepenuhnya tetapi huruf yang terakhir dibaca setengah suara.

Contohnya :

بِالْهَزْلِ   dibaca   بِالْهَزْلْ   atau   بِالْهَزْلِ   dengan lam setengah suara
اَلصَّدْعِ   dibaca   اَلصَّدْعْ   atau   اَلصَّدْعِ   dengan 'ain setengah suara
اَلْحَمْدُ   dibaca   اَلْحَمْدْ   atau   اَلْحَمْدُ   dengan dal setengah suara

Apabila akhir kalimah itu berupa huruf yang didahului dengan Mad Lin, maka dibaca dengan mematikan huruf terakhir itu dengan memanjangkan mad nya 2 harokat, 4 harokat, atau 6 harokat, yakni menjadi Mad 'Aridl Lissukun.

Contohnya:

يَشْعُرُوْنَ . اَلْحَكِيْمُ . المُفْلِحُوْنَ . مِنْ خَوْفٍ . الصَّيْفُ . العَدَابُ

dibaca

يَشْعُرُوْنْ . اَلْحَكِيْمْ . المُفْلِحُوْنْ . مِنْ خَوْفْ . الصَّيْفْ . العَدَابْ

Apabila akhir kalimah itu berbaris fathatain (tanwin), maka dibaca dengan membunyikan menjadi fathah yang dipanjangkan 2 harokat dan menjadi Mad 'Iwadl.

Contohnya :

سَلَامًا . أَفْوَاخًا . سُجَّدًا

dibaca

سَلَامَا . أَفْوَاخَا . سُجَّدَا

Demikianlah tentang ilmu tajwid dasar yang dapat kami bagikan. Semoga membantu dan bermanfaat. Sekian dan terimakasih. Salam.